Pada bagian awal, penulis menguraikan landasan filosofis mengenai hubungan seni, keindahan, dan moralitas dengan merujuk pada pemikiran para filsuf klasik dan modern, seperti Plato, Aristoteles, Leo Tolstoy, dan John Dewey. Uraian ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengalaman estetis, tetapi juga sebagai medium pembentukan karakter, refleksi moral, serta kesadaran kemanusiaan. Perspektif ini menjadi penting, terutama dalam konteks pendidikan seni, agar seni tidak tereduksi menjadi aktivitas teknis atau hiburan semata.
Selanjutnya, buku ini menghadirkan kajian yang menarik mengenai seni ornamen henna melalui perspektif filsafat Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer. Seni henna diposisikan bukan sekadar sebagai praktik dekoratif, melainkan sebagai ekspresi eksistensial manusia yang sarat makna, tradisi, simbol, serta relasi sosial dan ekonomi. Pendekatan hermeneutik yang digunakan memungkinkan pembaca memahami seni henna sebagai teks budaya yang hidup, yang maknanya terus terbentuk melalui dialog antara tradisi dan pengalaman kekinian.









Be the first to review “Seni, Etika, dan Pengalaman Manusia : Refleksi filsafat dan pendidikan seni dalam kehidupan budaya”